Sajak Sebatang Sigaret
Malam ini aku habiskan dengan merenungi dingin yang pekat
Dingin yang datang terlambat
Membayangi wajah di balik hembusan asap sebatang sigaret,
kenangan itu kembali menyapa dahulu, sewaktu Maret.
Ku terima banyak senyum, kagum dan syukur
Tapi dirimu tak terlihat olehku berbaur.
Tak juga terlihat menyapa,
pada suatu ketika.
Mungkin itu pilihan
Mungkin juga jawaban
Kini kuhisap dalam-dalam, sebuah kapas yang berasap
dan kuhembuskan (lagi) ke atap
(Kembali) mengingat Maret itu
yang cintanya baru saja mulai, dan ingin membatu tapi tak bisu.
Ini untuk sebatang sigaret yang kuhisap dan berasap
Ini untuk dirimu yang cintanya tak boleh padam,
seperti sigaret di tengah jariku ketika lama tak kuhisap.
Maret itu penuh senyum
Maret itu seperti sigaret yang kuhisap saat ini
Maret itu cinta,
Maret itu aku dan dirimu.
Bandung, 8 September 2014
jam 23 lewat 11 menit
Comments
Post a Comment